Rabu, 26 November 2008
Selamat Tinggal Copa
MADIUN - Pupus sudah harapan skuad Arema untuk melanjutkan episode positif menjadi juara Copa 2005 dan 2006. Alih-alih menjadi juara, sekadar lolos babak kedua (24 besar) di ajang Copa 2008 ini saja gagal terwujud. Dan ironisnya, tim yang menjegal langkah Arema adalah Persibo Bojonegoro. Tim yang notabene secara materi pemain maupun pengalaman jauh di bawah tim berjuluk Singo Edan ini.
Kegagalan Arema ini tidak lepas dari hasil buruknya di second leg yang dibentang di Stadion Wilis, Madiun sore kemarin. Anak asuh Gusnul Yakin ini ditundukkan tuan rumah Persibo 3-1 (1-0). Dengan hasil itu, Persibo yang berhak lolos ke babak 24 besar Copa dengan aggregate gol 4-3. Karena pada first leg di Stadion Kanjuruhan pada Sabtu (22/11) lalu, Arema yang menang dengan skor 2-1.
Kekalahan Arema atas tim berjuluk Laskar Angling Darmo tersebut dikarenakan buruknya peforma Suroso dan kawan-kawan. Bekal sebagai tim Indonesia Super League (ISL) tak mampu memotivasi pemain untuk bermain bagus.
Justru Persibo yang notabene merupakan tim kasta Divisi Utama mampu menguasai jalannya pertandingan selama 90 menit.
Striker mungil Persibo Syamsul Arif merupakan awal malapetaka bagi Singo Edan. Pemain asli Bojonegoro tersebut mampu menjebol gawang Muhammad Yasir pada menit ke-34.
Pada menit ke-65, pemain bertinggi 166 centimeter melakukan gerakan ekspresif dengan menipu setidaknya tiga pemain belakang Arema. Tendangannya sempat membentur mistar gawang Arema, namun akhirnya dia mampu menceploskan bola ke jala Yasir.
Arema membuka peluang untuk lolos setelah wasit Setiono memberikan hadiah penalti kepada Arema pada menit ke-77. Setiono memberikan hadiah penalti setelah Morris Power Bayaor handsball di kotak terlarang. Muhammad Bahtiar yang diberi kepercayaan mengeksekusi berhasil memperkecil kekalahan.
Sayangnya, pada menit ke-85, striker asing Persibo Varney Pas Boakay berhasil menambah koleksi gol. Gol Boakay ini sekaligus mengubur ambisi Arema untuk mengulang sejarah bagusnya sebagai juara Copa seperti pada 2005 dan 2006 lalu.
Persibo yang tampil tanpa pemain bintang mampu bekerja sama dengan baik dari lini ke lini. Berbeda dengan Arema. Kendati dihuni dengan mantan pemain bintang timnas U-23, Arema tak mampu berbuat banyak.
Kontribusi tiga pemain asingnya juga tak tampak dalam laga itu. Emaleu Serge, Souleymane Traore, dan Esaiah Pello Benson terlihat kurang bersemangat. Emaleu Serge dan Soulaymane pun diganti karena mengalami cedera. Demikian pula dengan pemain-pemain lokalnya. Mereka terlihat sulit untuk bekerjasama.
"Pemain Persibo memang tampil lebih bagus. Mereka bermain kolektif dan lebih kompak," kata Gusnul.
Apakah ketidakkompakan pemain Arema karena terjadi gap di internal skuad Arema? Gusnul enggan menjawab. Dia hanya mengatakan bahwa kesalahan bukan ada di tangan pemain. "Kekalahan ini merupakan kesalahan saya. Bukan kesalahan pemain," tambahnya.
Mantan pelatih Persibo tersebut menjelaskan, lawannya merupakan tim yang sangat bagus. Menurutnya, karakter permainan tim Persibo sudah terlihat sejak awal pembentukanya. Itu bisa dilihat ketika Persibo mampu menembus babak semifinal Liga Jatim 2008 pada awal Juni lalu. Saat itu, Persibo masih dibesut dirinya.
Tak pelak, kekalahan Arema atas tim divisi utama membuat suasana di kubu Singo Edan hening. Manajemen, pelatih, ataupun pemain memasang raut wajah sedih. Bahkan, di kamar ganti, mereka hanya diam dan tak saling bertegur sapa.
Kapten Suroso yang biasanya ramah kepada wartawan, kemarin tak mau berkomentar sama sekali. "Nggak Mas. Tolong jangan tanya sekarang," kata Suroso.
Kondisi itu berbeda di ruang ganti. Pemain Persibo tampak terus bersorak. "Alhamdulillah Mas. Hasil ini cukup memberikan kebahagiaan bagi kami," kata Syamsul.
Dia juga mengatakan, bahwa semua pemain Persibo menaruh hormat kepada Gusnul. "Namun, kami tetap harus bersikap profesional. Dan kami bangga bisa mengalahkan tim beliau," lanjutnya.
Sementara, pelatih Persibo Sartono Anwar mengatakan, kemenangan timnya atas Arema merupakan hasil yang cukup membanggakan. Dia tak menyangka, timnya yang bermaterikan pemain kampung mampu mengalahkan Arema yang bermaterikan pemain bintang.
Namun, mantan pelatih PSIS Semarang tersebut menolak anggapan bahwa keberhasilan timnya berkat kemonceran strategi yang diterapkannya. "Kemenangan Persibo bukan karena pelatih. Tapi, karena kerja keras pemain. Mereka bermain sangat bagus," ucap Sartono. (fir/abm)
♥ My
doll smiled.
16.09
0 commented
16.09
0 commented